Opini Kenapa harus Menikah?
Pada saat aku menulis ini, aku berumur hampir 32 taon. Dan belum menikah. Kenapa belum? Dan Kenapa harus menikah? Ini dia pertanyaan yang sampai sekarang belum aku temukan jawabannya.
Karena dari logikaku berpikir, menikah tidaklah keharusan, tapi perasaanku menyatakan menikah adalah hal yang wajar. Ini tetap menjadi pertentangan dan perdebatan dan diriku. Dari beberapa gadis yang ku kenal dan juga ada yang ku pacari, pandangan mereka tentang menikah adalah perasaan harus menikah, tanpa memikirkan apa dan bagaimana menikah itu. Juga dari beberapa orang yang aku kenal dan juga kenal samaku, ternyata alasan mereka menikah adalah karena perasaan juga, sudah dipacari, sudah berumur, sudah ini, sudah itu jadi wajar untuk dinikahi!
Ketika beberapa alasan ku ungkapkan pada seorang gadis yang pernah jadi pacarku, karena tidak menikahinya dengan segara, dia malah berpaling dari aku, dan bilang samaku bahwa selama ini aku tidak mencintainya. Tapi ketika aku bilang, ini bukan masalah mencintai atau tidak, tapi masalah menikah atau tidak. Dia tidak bisa menerima alasanku.
Ketika orang mengatakan alasan menikah untuk bisa menyalurkan hasrat biologis, aku jawab: kan ada tempat pelacuran yang bisa melampiaskan hasrat seks, dan ketika dia bilang : kan berdosa! aku jawab : kita tidak membicarakan masalah dosa atau tidak.
Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah ingin mempunyai keturunan, aku jawab : kalau hanya ingin punya anak, sewa aja satu orang wanita, buat dia sebagai pabrik anak, bila wanitanya gak mau, aku kira pasti ada psk/pelacur yang mau di sewa untuk melahirkan anak, yang penting kita biayai wanitanya.
Ketika orang mengatakan alasan menikah untuk teman berbagi ataupun untuk curhat, aku jawab : kan ada teman-teman kita yang lain, teman kerja, sekampung, tetangga, sekontrakan dan teman-teman yang lainnya. Tinggal bagaimana kita bisa mendapatkan teman yang bisa dibuat jadi teman.
Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah karena dianjurkan agama, lalu aku jawab: di agamaku (kristen) tidak diwajibkan(hanya dianjurkan) untuk menikah ( tidak menikah juga tidak apa-apa), dan dari beberapa orang yang beda agama samaku juga menyatakan di kitab suci mereka juga tidak diwajibkan(hanya dianjurkan) untuk menikah.
Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah menyenangkan orang tua, aku jawab: tidak harus menikah bisa menyenangkan hati orang tua, masih banyak cara lain yang lebih, dari sekedar menikah.
Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah untuk mewariskan harta benda yang dimiliki, aku jawab : masih banyak fakir miskin yang harus dibantu.
Ketika orang bilang samaku, kau banyak alasan, lalu aku jawab: itulah logika berpikirku tentang menikah!
Ketika orang bilang samaku jangan pakai logika, pakai perasaan, lalu aku jawab: aku ada, ketika aku berpikir, logika(pikiran) yang mengontrol perasaan, bukan perasaan yang mengontrol pikiran.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized